Perang Dagang Memukul AS, Donald Trump: China Akan Lebih Menderita

Kamis, 05 September 2019 - 10:12:14 WIB Cetak

Ilustrasi.(Foto:Int)

 WASHINGTON, WP.COM-- Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa (3/9) lalu bahwa manufaktur China akan "hancur" jika negara itu tidak menyetujui persyaratan perdagangan yang dibuat Amerika Serikat. Melansir New York Times, pernyataan ini diungkapkan Trump setelah data terbaru menunjukkan perang dagang berdampak ke pantai Amerika dan memukul pabrik-pabrik yang ingin dilindungi oleh presiden.

Beberapa hari setelah tarif baru diberlakukan baik di AS maupun China, indeks aktivitas manufaktur Amerika yang tengah menjadi perhatian pasar, mencatatkan penurunan menjadi 49,1 dari sebelumnya 51,2. Ini menandakan, manufaktur AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak 2016. 

Tanggapan perusahaan-perusahaan atas data tersebut adalah kontraksi dipicu oleh menurunnya pesanan ekspor sebagai dampak dari perang dagang, sekaligus upaya memindahkan produksi dari China untuk menghindari tarif. 

Loading...

New York Times menulis, sektor manufaktur sepertinya masih akan menemui tantangan lanjutan karena dua negara ekonomi terbesar di dunia terus melakukan aksi balas pada perang dagang. Pada hari Minggu, Trump menetapkan tarif baru sebesar 15% terhadap barang-barang konsumen China, termasuk pakaian, mesin pemotong rumput, mesin jahit, makanan dan perhiasan.

Beijing membalas dengan menaikkan tarif produk-produk Amerika senilai US$ 75 miliar. Selain itu, China juga mengajukan keluhan kepada Organisasi Perdagangan Dunia atas tarif baru Trump.

Dampaknya, pasar memerah di tengah berita ekonomi yang lemah dan kekhawatiran tentang perang dagang. Indeks S&P 500, misalnya, turun sekitar 0,9%, dengan pelemahan terbesar dialami sektor industri dan energi.

Data yang dihimpun New York Times menunjukkan, harga komoditas industri utama juga menurun, di mana harga minyak mentah Amerika turun sekitar 3%. Tembaga, yang dianggap sebagai barometer kesehatan industri global, mengalami penurunan kurang dari 1%.

Imbal hasil surat utang AS bertenor 10-tahun turun menjadi 1,45%. Sebab, investor yang cemas terus menerus membeli obligasi pemerintah, sehingga mendorong kenaikan harga obligasi dan menekan imbal hasil. Penurunan imbal hasil obligasi tahun ini menunjukkan penurunan ekspektasi yang luas terhadap pertumbuhan ekonomi di kalangan investor.

“Perang dagang AS dengan dunia telah membuka lubang besar dalam kepercayaan manufaktur,” jelas Chris Rupkey, kepala ekonom keuangan di MUFG Union Bank, dalam risetnya yang dirilis Selasa (3/9). "Sektor manufaktur turun dan penurunan ini merupakan yang pertama kalinya tahun ini akibat tarif China dan perlambatan ekspor yang mulai menggigit."

Di sisi lain, Presiden Trump terus bersikeras bahwa rasa sakit akibat perang dagang akan lebih dirasakan oleh China, bukan Amerika Serikat. Pada hari Jumat, ia menegaskan perusahaan-perusahaan Amerika meninggalkan China sebagai tanggapan atas kenaikan tarif. Ini merupakan sebuah perkembangan yang menempatkan Amerika Serikat dalam posisi negosiasi yang luar biasa. 

Trump juga mengatakan, setiap bisnis yang mengeluh tentang kesulitan keuangan akibat tarif, hal itu disebabkan karena manajemen yang buruk, bukan perang dagang.(Kontan)



Baca Juga Topik #ekbis+


Loading...
Tulis Komentar +

Berita Terkait+
Ekonomi

Pemkab Wajo Akan Bubarkan Koperasi Bodong

Selasa, 26 Maret 2019
Ekonomi

Harga TBS Naik Tipis

Rabu, 16 Januari 2019