Polisi Bangladesh Tembak Mati Dua Pengungsi Rohingya

Ahad, 25 Agustus 2019 - 18:09:02 WIB Cetak

Ilustrasi/Net

WP.COM--Dua pengungsi Rohingya ditembak mati oleh polisi Bangladesh dalam tembak-menembak di sebuah kamp pengungsi pada Sabtu. Kedua pengungsi sebelum itu dituduh membunuh seorang pejabat partai yang berkuasa.

Hampir satu juta Rohingya tinggal di kamp-kamp kumuh di Bangladesh tenggara; 740.000 melarikan diri dari serangan militer 2017 terhadap minoritas Muslim di Myanmar. Beberapa aktivis HAM, yang meminta namanya tidak disebutkan, mengatakan mereka yakin kedua pria Rohingya itu dibunuh oleh polisi saat berpapasan tidak sengaja. 

Insiden itu terjadi dua hari setelah upaya kali kedua gagal untuk memulangkan para pengungsi. Tidak satu pun Rohingya kembali menyeberang perbatasan ke negara bagian Rakhine.

Loading...

"Kedua pria itu meninggal ketika mereka dilarikan ke rumah sakit," kata inspektur polisi setempat, Rasel Ahmad, dikutip dari Guardian, Minggu 25 Agustus 2019.

Ahmad berkata, kedua Rohingya itu ditembak dan terluka parah di kamp pengungsi Jadimura di distrik Cox's Bazar selama perburuan. Setelah seorang pejabat sayap pemuda dari partai Liga Awami yang berkuasa terbunuh, diduga oleh para pengungsi bersenjata.

Omar Faruk ditembak kepalanya pada Kamis di sebuah pemukiman dekat kota perbatasan Teknaf, kata Ahmad. Pembunuhannya telah memicu kemarahan di kalangan penduduk setempat dan ratusan orang memblokir jalan raya utama menuju kamp selama berjam-jam, membakar ban, dan merusak toko yang dikunjungi para pengungsi.

Ahmad katakan, kedua pria yang terbunuh pada Sabtu diidentifikasi sebagai tersangka utama dalam pembunuhan Faruk dan ditembak ketika para petugas disergap oleh para tersangka penjahat.

"Para pengungsi salah menggerakkan penduduk setempat," kata Abdul Matin, seorang rekan politisi yang meninggal itu. "Kami menginginkan keadilan dalam waktu secepat mungkin," tegasnya.

Mohammad Saber, pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kerumunan, mengaku penduduk setempat memukuli para pengungsi.

"Mereka mengancam kami, mengatakan kami harus pergi atau mereka akan membunuh kami. Mengapa kami harus dihukum jika orang lain melakukan sesuatu yang buruk?" katanya.

Pengungsi lain mengatakan pertumpahan darah baru-baru ini telah menciptakan suasana ketakutan di kamp, di mana keamanan diperketat. Kamp yang biasanya sibuk itu sunyi Sabtu malam, jalanan lengang dan toko-toko tutup.

Ikbal Hossain, wakil kepala polisi distrik Cox's Bazar, berjanji akan mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.

Pembunuhan itu terjadi ketika Rohingya akan memperingati ulang tahun kedua masuknya massa mereka ke Bangladesh dari Rakhine setelah kampanye militer brutal. Penyelidik PBB mengatakan kekerasan 2017 meminta penuntutan atas jenderal-jenderal penting Myanmar karena "genosida".

Upaya kedua Bangladesh pada Kamis untuk mulai memulangkan Rohingya ke Myanmar gagal setelah para pengungsi mengatakan mereka tidak akan kembali. Kecuali keamanan mereka dipastikan dan mereka diberikan kewarganegaraan di tanah air mereka.(medcom)



Baca Juga Topik #peristiwa+


Loading...
Tulis Komentar +

Berita Terkait+