Bupati Asmar Hadiri Sagu Bisnis Forum 2026, Buka Peluang Pengembangan Industri Sagu Daerah Sekaligus Perluas Pasar ke Mancanegara.

Kamis, 05 November 2026 - 15:34:48 WIB Cetak

JAKARTA,WARTAPOROS.COM   – Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn.) H. Asmar, terus mendorong pengembangan komoditas sagu sebagai salah satu kekuatan ekonomi unggulan daerah. Melalui keikutsertaannya dalam Sagu Business Forum 2026 yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Kamis (5/11/2026), Asmar menjajaki peluang investasi sekaligus memperluas akses pemasaran sagu Meranti hingga ke pasar internasional, khususnya Jepang.


 

Forum yang berlangsung di Aula Gedung Garuda, Kementerian Perindustrian, Jakarta, tersebut menjadi momentum strategis bagi Kabupaten Kepulauan Meranti untuk memperkenalkan potensi sagu daerah kepada pemerintah pusat, investor, pelaku industri, serta mitra perdagangan dari luar negeri.

Loading...


 

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Perindustrian RI, Muhammad Sarmuji, beserta jajaran, perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia yang diwakili Konselor Kedutaan Besar Jepang, Keisuke Hosonuma, serta perwakilan Japan External Trade Organization (JETRO) dan Jakarta Japan Club (JJC).


 

Turut hadir perwakilan The Society of Sagu Palm Studies, Japanese Society for Tropical Agriculture, pemerintah daerah penghasil sagu, asosiasi industri, pelaku usaha pengolahan sagu dari Indonesia dan Jepang, perguruan tinggi, lembaga penelitian, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.


 

Bupati Asmar hadir didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kepulauan Meranti, Marwan, bersama Sekretaris Mifta, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sukri, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Yusran, serta perwakilan Bappeda Meranti, Robert.


 

Asmar mengatakan, keikutsertaan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti dalam forum tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pengembangan industri sagu, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan pemerintah pusat dan para pelaku usaha.


 

Menurutnya, sagu memiliki potensi ekonomi yang sangat besar bagi Kepulauan Meranti. Namun, potensi tersebut perlu didorong melalui pengembangan industri pengolahan, peningkatan nilai tambah, serta perluasan jaringan pemasaran agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.


 

Ia mengungkapkan, dalam forum tersebut Kabupaten Kepulauan Meranti mendapatkan dukungan dan apresiasi dari Kementerian Perindustrian atas potensi serta berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah dalam mengembangkan komoditas sagu.


 

"Alhamdulillah, kita mendapat banyak dorongan dan arahan langsung dari Bapak Menteri. Beliau juga berkesempatan mengunjungi stan Meranti dan memberikan apresiasi terhadap apa yang telah kita lakukan dalam mengembangkan potensi sagu," ujar Asmar.


 

Tidak hanya memperkenalkan produk unggulan daerah, Asmar juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjalin komunikasi dengan sejumlah pengusaha dari luar daerah, termasuk perwakilan pelaku usaha Jepang, guna menjajaki peluang investasi, kerja sama perdagangan, dan pemasaran produk sagu Meranti.


 

Menurutnya, Jepang menjadi salah satu pasar potensial yang perlu terus dijajaki, mengingat negara tersebut merupakan salah satu tujuan ekspor pati sagu Indonesia.


 

Asmar berharap, komunikasi dan penjajakan kerja sama yang dilakukan dalam forum tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama konkret, sehingga ke depan Kabupaten Kepulauan Meranti tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan baku sagu, tetapi juga mampu melakukan ekspor secara mandiri ke pasar internasional.


 

"Kita sudah berkomunikasi dengan beberapa pengusaha dari luar Meranti. Harapan kita, bagaimana sagu Meranti ke depan bisa diekspor langsung ke luar negeri, sekaligus menarik investor untuk berinvestasi dan menjalin kerja sama dalam pengembangan serta pemasaran sagu," jelasnya.


 

Ia menambahkan, terbukanya peluang investasi dan ekspor diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sagu, memperluas kesempatan kerja, mendorong pertumbuhan usaha masyarakat, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).


 

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, lanjut Asmar, berkomitmen untuk terus mengembangkan potensi sagu melalui penguatan sektor perkebunan dan industri pengolahan, sehingga komoditas unggulan tersebut dapat menjadi salah satu penggerak perekonomian daerah.



 

Sementara itu, Menteri Perindustrian RI, Muhammad Sarmuji, menilai Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi sagu yang sangat besar dan dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendukung pengembangan industri sagu nasional.


 

Potensi tersebut didukung ketersediaan bahan baku serta tradisi pengolahan sagu yang telah berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kondisi ini dinilai menjadi modal penting bagi Kepulauan Meranti untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai industri, mulai dari pengolahan hingga pemasaran produk sagu.


 

Sarmuji menegaskan, pengembangan dan hilirisasi sagu perlu terus diperkuat sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia. Selain memiliki nilai ekonomi, sagu juga berperan strategis dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional serta meningkatkan daya saing industri dalam negeri.


 

Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya sagu yang sangat besar dengan persebaran lahan di sejumlah wilayah, antara lain Maluku, Papua, serta kawasan Sumatera, termasuk Kepulauan Meranti, Nias, dan Mentawai.


 

"Sagu merupakan salah satu keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia. Potensinya sangat besar dan harus kita dorong agar menjadi keunggulan kompetitif melalui pengembangan industri, riset, inovasi, dan hilirisasi," ujarnya.


 

Ia menjelaskan, pemanfaatan sagu tidak hanya terbatas sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras. Komoditas tersebut juga dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti mi, beras analog, pasta, biskuit, dan beragam produk pangan lainnya.


 

Bahkan, potensi sagu juga terbuka untuk sektor nonpangan, di antaranya pengembangan bio-packaging dan bioetanol. Sementara itu, limbah padat maupun cair dari proses pengolahan sagu dapat dimanfaatkan kembali menjadi pakan ternak dan sumber energi alternatif, seperti biogas.


 

Dengan pemanfaatan bahan baku dan limbah secara menyeluruh, industri sagu dinilai memiliki peluang besar menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Melalui pendekatan tersebut, setiap tahapan produksi diharapkan mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.


 

"Jika seluruh potensi ini dapat dimanfaatkan, sagu bukan hanya menjadi komoditas pangan, tetapi juga dapat menjadi sumber pertumbuhan industri baru yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat," jelasnya.


 

Sarmuji juga menekankan pentingnya diversifikasi pangan dalam memperkuat kedaulatan pangan Indonesia. Menurutnya, sumber pangan nasional tidak seharusnya hanya bertumpu pada beras, mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya pangan lokal yang melimpah dan berpotensi dikembangkan.



 

Selain potensi pasar domestik, pengembangan industri sagu Indonesia juga memiliki peluang besar di pasar internasional. Salah satu negara yang menjadi perhatian adalah Jepang, yang selama ini menjadi salah satu negara tujuan ekspor pati sagu Indonesia.


 

Berdasarkan data yang disampaikan dalam forum tersebut, pangsa pasar pati sagu Indonesia di Jepang menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.


 

Pada 2021, pangsa pasar pati sagu Indonesia di Jepang tercatat sebesar 2 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 7 persen pada 2022, kemudian 8 persen pada 2023, 9 persen pada 2024, hingga mencapai 14 persen pada 2025.


 

Peningkatan tersebut menunjukkan adanya peluang bagi industri sagu Indonesia untuk memperluas penetrasi pasar internasional. Namun, upaya tersebut perlu didukung peningkatan kapasitas produksi, penguatan industri pengolahan, investasi, serta penguasaan teknologi agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan dan standar pasar global.


 

Untuk itu, Kementerian Perindustrian mendorong terbangunnya kerja sama antara pelaku industri nasional dan investor internasional, khususnya Jepang, dalam mengoptimalkan potensi sagu Indonesia.


 

"Kami mengundang para pelaku industri dan investor Jepang untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama dengan industri sagu di Indonesia. Kita ingin potensi besar yang dimiliki daerah dapat dikembangkan menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing di pasar internasional," ungkap Sarmuji.


 

Bagi Kabupaten Kepulauan Meranti, terbukanya peluang pasar dan dukungan pemerintah pusat tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra pengembangan industri sagu nasional.



 

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong pengembangan industri pengolahan sagu melalui berbagai langkah strategis.


 

Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing produk, serta membangun rantai pasok industri sagu nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.


 

Menurutnya, Sagu Business Forum 2026 menjadi wadah strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, memperkuat kemitraan usaha, memperluas akses pasar, serta membuka peluang investasi dan kerja sama antara Indonesia dan Jepang.


 

Ia menyebutkan, kegiatan tersebut diikuti sekitar 130 peserta, yang terdiri atas 60 perwakilan pemangku kepentingan dari Indonesia dan 70 peserta dari Jepang. Peserta berasal dari unsur pemerintah, asosiasi, pelaku usaha, peneliti, serta media.


 

Rangkaian kegiatan forum mencakup tiga agenda utama. Pertama, Industrial Forum yang membahas potensi, tantangan, dan arah kebijakan pengembangan industri sagu.


 

Kedua, One-on-One Business Matching, yakni pertemuan bisnis secara langsung untuk mempertemukan pelaku industri sagu Indonesia dengan calon mitra usaha dari Jepang guna menjajaki peluang perdagangan dan investasi.


 

Ketiga, Sagu Product Showcase yang menjadi ajang promosi produk olahan, pengenalan potensi daerah penghasil sagu, serta pemaparan hasil riset dan inovasi pengembangan komoditas tersebut.


 

Dalam agenda Sagu Product Showcase, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, turut ambil bagian bersama sejumlah daerah penghasil sagu lainnya, yakni Kabupaten Seram Bagian Timur, Kepulauan Mentawai, dan Kabupaten Lingga.


 

Putu berharap, melalui forum tersebut terbangun komunikasi bisnis secara langsung yang dapat ditindaklanjuti menjadi kemitraan jangka panjang, terutama dalam pengembangan produk, perdagangan, investasi, serta transfer teknologi.


 

Kolaborasi antara Indonesia dan berbagai mitra internasional, menurutnya, diharapkan mampu memperkuat posisi industri sagu nasional sekaligus membuka akses pemasaran yang lebih luas bagi produk sagu Indonesia di pasar global.


 

Bagi Kepulauan Meranti, peluang kerja sama yang terbangun melalui Sagu Business Forum 2026 diharapkan tidak berhenti pada promosi dan penjajakan bisnis semata, tetapi dapat berlanjut menjadi investasi dan kemitraan nyata.


 

Dengan dukungan pemerintah pusat, keterlibatan investor, serta penguatan industri pengolahan di daerah, sagu Meranti diharapkan mampu naik kelas dari komoditas unggulan lokal menjadi produk industri bernilai tambah yang memiliki daya saing di pasar internasional.


 

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti dalam memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.(Manik)







Loading...
Tulis Komentar +

Berita Terkait+