Merasakan 'Terik' Ruangan Kelas III RSUD Tengku Rafian

Kamis, 04 Juli 2019 - 00:29:23 WIB Cetak

: Sejumlah keluarga pasien bergeletakan di ruang rawap inap kelas III RSUD Tengku Rafian, Siak, Rabu (3/7/2019) malam.

SIAK.WP.COM- Kala matahari mulai terbenam, Rabu (3/7/2019),  Suzuki Karimun yang ditumpangi awak media merapat di pelataran parkir RSUD Tengku Rafian Siak. Aktivitas rumah sakit kebanggaan warga Siak itu tampak sepi.

Mulai berjalan memasuki pintu utama. Loket pendaftaran dan pengambilan obat di loby utama itu sudah tutup,  kursi-kursi tempat duduk menunggu antrean kosong melompong.

Perjalanan dilanjutkan. Gedung Saffa, ruang rawat inap klas III yang dituju. Ternyata gedung Saffa, tempat orang-orang kelas bawah dirawat itu terletak paling belakang. Lumayan jauh dari apotek, dan gedung utama tadi. 

Loading...

"Gedung Saffa yang bertingkat paling belakang itu Pak," ujar perempuan paruh baya menjawab pertanyaan awak media.

Gedung Saffa tersebut bangunan baru di RSUD Siak. Gedung ini dibangun pada 2017 dengan angaran Rp 10 miliar. Gedung ini memang diperuntukkan untuk ruang rawat inap klas III. Bagi pemegang BPJS Kesehatan klas III, di gedung itulah ia dirawat. 

"Ya benar sekali Pak. Ini ruang Safa," kata seorang petugas di bagian informasi gedung itu.

Benar sekali. Begitu berada di dalam gedung, suasana rumah sakit kentara terasa. Keluarga pasien hilir mudik, masuk dan keluar dari ruangan -ruangan tersedia. Ada yang berwajah lesu, sedih ada juga yang terisak. Maklum, banyak pasien dengan beragam penderitaan penyakitnya yang dirawat di sana.

Pada lantai dasar gedung itu terdapat 7 ruangan rawat inap. Namanya ruangan Safa I hingga Safa 7. Satu ruangan diisi oleh 5 pasien rawat inap. 

Menusuk ke bagian dalam, ruangan demi ruangan memang terasa panas. Tidak terlihat mesin pendingin ruangan, pun sekadar kipas angin.

Seorang perempuan paruh baya tampak sedang berkipas dengan potongan karton bekas. Sesekali ia mengipaskan potongan karton itu ke bagian bawah hijabnya. 

"Panas sekali Nak, di sini," kata dia saat disapa Wartaporos.com.

Sebagian keluarga pasien lainnya, membawa kipas angin kecil dari rumah. Mereka berupaya memberikan angin sejuk pada keluarganya yang terbaring di atas bangsal ruangan rumah sakit itu. 

Dari sejumlah keluarga pasien yang diwawancarai, rata-rata mengeluh dengan kondisi yang ada. Tetapi mereka tidak mau melakukan protes dengan alasan tidak akan digubris pihak rumah sakit.

"Namanya klas III, ya sudahlah. Mungkin iya begini aja. Kalau ke kelas I kami tak cukup biaya, BPJS kami kelas III," kata Las, seorang keluarga pasien. 

Las (36), baru saja mengalami kemalangan. Ibu kandungnya meninggal saat dirawat di gedung safa itu, Minggu (30/7/2019). Las mengaku tidak puas dengan pelayanan di sana. Sebab, kala ibunya dirawat, justru perawat menyuruhnya memegang alat bantu pernafasan.

"Kakak saya yang memegang alat bantu pernafasan saat itu. Perawatnya jarang melihat, harus berapa lama alat bantu pernafasan itu ditutupkan ke bagian hidung dan mulut ibu. Kami tidak mengerti," kata dia.

Menurut Las, ajal memang ketetapan Tuhan. Namun bukan berarti petugas medis melayani setengah hati. "Seperti yang saya alami, sangat makan hati dan menyesalkan pelayanan yang tidak berhati nurani itu," kata dia lagi.

Las hanyalah satu dari sekian banyak keluarga pasien. Dia berharap, agar pihak rumah sakit menjadikan pengalamannya tersebut pembelajaran untuk perbaikan kualitas. Jika tidak, akan lebih banyak lagi keluarga pasien yang akan kecewa dengan RSUD yang saban bulan mendapat akreditasi Bintang Lima Paripurna itu. 

Akreditasi Paripurna tersebut ditetapkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Indonesia. Untuk mendapatkan akreditasi itu, RSUD Tengku Rafian Siak harus melalui proses akreditasi Survei Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi I. Proses tersebut telah dilalui pada April 2019 lalu.

Berdasarkan Permenkes Nomor 34 Tahun 2017, disebutkan bahwa lembaga independen yang bertugas melakukan penilaian harus terakreditasi oleh Lembaga Internasional Society for Quality in Healthcare (ISQua).

Terkait hal itu, Direktur RSUD Tengku Rafian Siak dr Benny Chairuddin mengatakan pihaknya sudah menganggarkan perlengkapan pada gedung Safa. Hanya saja, pengadaan tersebut menjadi kewenangan Dinas Kesehatan (Diskes) Siak. 

"Silahkan tanya ke Dinas Kesehatan,  kapan mereka mau pengadaan," jelas dia. 

Benny juga mengharapkan, pihaknya dapat menyelenggarakan seluruh pelayanan sebagaimana tuntutan akreditasi yang baru diperoleh itu. Namun, seluruh tender untuk pengadaan tidak menjadi kewenangannya. (Masroni) 

 



Baca Juga Topik #keluarga+
Business

Tiga Zodiak ini Paling Suka Caper

Kamis, 10 Januari 2019


Loading...
Tulis Komentar +

Berita Terkait+